Sumardji Sumarsono, Vice Chariman ILWA: “Butuh Added Value”

ilwa-solo

Sumardji Sarsono, Vice Chairman Indonesia Light Wood Association (ILWA) menyebutkan booming sengon dimulai pada tahun 2012. Ini ditandai pelonjakan harga dari USD250 atau USD260 menjadi USD300-320 perkubik. Namun, begitu harga melonjak semua pun masuk menjadi petani dan mendirikan industri ini. Puncak booming terjadi pada tahun 2013. Tidak heran saat ini kapasitas terpasang industri ini berdasarkan ijin usaha industri mencapai 6000 kontainer High Cube (HCU) perbulan.

Setelah tahun 2013, kondisi berlanjut namun hanya menguntungkan China sebagai pasar utamanya. China menyerap sebesar 3000 kontainer HCU sementara Taiwan mengkonsumsi 500 kontainer HCU perbulannya. Ini berdampak pada merosotnya bargaining position Indonesia terhadap China. “Ini membuat pasar China mampu menekan posisi kami sehingga harga terbagus saat ini sekitar USD240 perkubiknya. Jatuh sudah,” kata Sumardji.

“Di China, produk kami hanya ditempeli komponen dekor untuk dijual ke project property domestiknya. Itu kan soal gampang dan bisa dilakukan disini”, Kata  Sumardji. Menurutnya, kalau ditempeli dengan berbagai material seharga kurang dari USD5, maka bisa dijual dengan harga berlipat ganda. “Kalau masih berupa barecore harganya rendah, tapi kalau sudah ditempeli macam-macam maka harga jualnya berbeda jauh. Jadi harus ada added valuenya. Ada beberapa produsen yang sudah melakukan dalam skala terbatas,” lanjutnya.