PT Woodexindo: “Membangun Good People dengan Good Skill dan Edukasi lebih tinggi”

roman-melachrinos-dipl-ing-john-c-melachrinos-dipl-ing

Pengalaman pahitnya ini membuat John Melachrinos lebih defensif dan pesimis dalam melihat situasi dibandingkan putranya. Namun yang pasti, John masih tetap melanjutkan passionnya dalam industri kayu olahan dan tetap bertahan di Indonesia sejak kedatangannya di tahun 1979. “Tiga puluh lima tahun lalu, saya mulai berbisnis dengan mendirikan pabrik di Kawasan Industri Pulogadung yang berakhir dengan tragis,” kenangnya.

 

Tidak jera dengan pengalaman pahit pertama, John kembali ke Indonesia dan mendirikan perusahaan di tahun 1982, namun dirinya pun mengalami perlakukan buruk kembali bahkan hingga dua kali setelahnya. “Mereka memanfaatkan UU keimigrasian untuk itu,” katanya. Tentu ini amat sangat mengganggu untuk pebisnis asing macam John.

 

Ketika pelarangan ekspor kayu log diterbitkan, John membanting setir dengan mendirikan bisnis impor mesin-mesin produksi. Ia mendirikan PT Interwood, dan sempat menjadi salah satu importir mesin asal Jerman dan Eropa terbesar di saat itu. Bahkan menjadi salah satu eksibitor dalam pameran-pameran permesinan di Jakarta International Expo Kemayoran. Sayangnya bisnis itu pun kandas dengan tragis. Ia terdepak untuk ketiga kalinya, namun John adalah pebinsnis tangguh yang tidak pernah menyerah dengan tantangan terburuk.

 

Peruntungannya berubah ketika Presiden Megawati mengesahkan UU Penanaman Modal Asing baru yang membolehkan pemilikan saham sepenuhnya bagi pebisnis asing. “Itu sekitar lima belas tahun lalu, dan saya masih masih bertahan di Jakarta sebelum beralih ke Jepara mendirikan PT Woodexindo,” ujarnya.

 

Baca lebih lanjut ke softcopy edisi 52…….