“Looking Something New? Go to the MIFF”

Image MIFF 2014_for website

Perekonomian dunia bisa saja belum pulih benar dari keterpurukan dalam tiga tahun terakhir ini, tapi itu tidak berarti industri dan bisnis juga ikut terpuruk bersamanya. Nyatanya, sekalipun seorang pengamat industri furnitur meragukan perkembangan yang cukup positif dalam industri furnitur Malaysia. Namun itu tidak menutupi gempitanya kebangkitan kembali industri ini seperti yang tercermin dalam Malaysian International Furniture Fair (MIFF) 2014.

Pameran MIFF kali ini memang tidak bisa dibilang biasa, apalagi momennya bertepatan dengan ke duapuluh kalinya pameran ini terselenggara sejak tahun 1995. Kali ini MIFF merayakan kegemilangannya dalam dua puluh tahun perjalanannya. Menurut Chairman MIFF Dato’ Dr. Tan chin Huat, pada awalnya pameran ini hanya 152 eksibitor lokal. Dua puluh tahun kemudian, pameran yang sama telah diikuti lebih dari 500 ekshibitor dari 13 negara, dan menempati lahan lebih dari 80.000 meter persegi. Sejak berapa tahun terakhir, pameran digelar dalam dua venue yaitu Putra World Trade Center (PWTC) dan Malaysia External Trade Development Corporation Exhibition and Convetion Center (MECC).

Dalam pidato pembukaan MIFF di Grand Ballroom Hotel Seri Pasific, Kuala Lumpur, Dato’ Tan menyebutkan dalam dua puluh tahun perjalanannya MIFF telah menjelma “Become one of the premier furniture trade shows in the world and the leading industry event in Southeast Asia”. Keberhasilan MIFF karena berfokus pada pemenuhan kebutuhan harapan dari para eksibitor dan buyer serta memberikan pameran yang sangat terorganisir secara baik.  Ia juga menambahkan bila pertumbuhan pesat dan keberhasilan yang telah diraih juga karena dukungan yang luar biasa dari para eksibitor, buyer, berbagai kementerian dan lembaga pemerintahan Malaysia, serta tidak ketinggalan media lokal dan internasional.

Dalam pidato pembukaannya, Chief Executive Officer (CEO) UBM Asia Jime Essink menyebutkan bahwa kunci keberhasilan pameran kali ini dan sebelumnya karena pihaknya bisa memberikan layanan yang efektif bagi pengunjung dan eksibitor. Selain itu, ditunjang dengan keberhasilan untuk menciptakan bisnis yang riil, membuka peluang baru sekaligus menjadi pintu gerbang pada pasar baru yang sedang berkembang pesat. Tidaklah heran jika ia menyebutkan bahwa pihaknya mendedikasikan MIFF sebagai satu dari tujuh pameran akbar berskala global bagi industri furnitur, terutama di Malaysia.

Wakil Sekretaris Jenderal Kementerian Industri dan Perdagangan Internasional Mohammad Ridzal Sherrif menyebutkan bahwa industri furnitur Malaysia sangat berorientasi ekspor. Nilai ekspornya pada tahun 2013 lalu mencapai MYR7.4 milyar. Bandingkan dengan target eskpor furnitur Indonesia tahun ini yang ditetapkan oleh Menteri perindustrian MS. Hidayat sebesar USD3 milyar.

Dengan nilai sebesar itu, Malaysia menempati urutan ke delapan dalam jajaran negara-negara pengeskpor furnitur terbesar di dunia. Industri furnitur negeri jiran ini memang merupakan salah satu pemasok devisa utama. Itu sebabnya pemerintah Malaysia sangat serius dalam membina dan mengembangkannya. Pameran MIFF tahun lalu telah menyumbang penjualan ekspor sebesar USD854 juta, maka tak pelak bila pameran ini dilihat sebagai salah satu platform terpenting bagi ekspor furnitur Malaysia.

Tahun ini tercatat tiga belas negara yang turut berpartisipasi dalam pameran akbar ini, selain Malaysia tercatat Amerika Serikat, China, Hongkong, India, Indonesia, Inggris, Iran, Singapura, Korea Selatan, Spanyol, Taiwan dan Vietnam. Sejumlah delegasi dagang dari Belgia, Jepang, Korea Selatan dan Russia; juga menghadiri pameran kali ini. Delegasi Jepang mungkin tercatat yang selalu hadir dalam pameran ini dari tahun ke tahun. Selain itu tercatat peserta pameran asal Bangladesh yang hadir sebagai peninjau dalam pameran akbar kali ini.

Perjalanan  selama dua dasawarsa ini telah berhasil menjadikan MIFF sebagai salah satu daya tarik dalam sirkuit Asia. Betapa tidak, MIFF sudah mampu berdiri sejajar dengan sejumlah pameran ternama dalam sirkuit Asia. Salah satu daya tarik MIFF adalah kemampuannya menghadirkan produk-produk yang lebih bernuansa modern dan kontemporer. Namun sedikit berbeda dengan pameran sebelumnya, even MIFF ke duapuluh kalinya berhasil mengejutkan para pengunjung yang datang kali ini.

Koleksi yang dipamerkan dalam pameran kali ini lebih ‘meriah’ dibandingkan sebelumnya. Jika banyak pengunjung tetap yang selalu berpikiran bahwa koleksi dan desain yang ditampilkan pameran kurang lebih sama dengan sebelumnya. Maka tahun ini bisa dijumpai begitu banyak desain baru yang tak pernah terbayangkan bisa ditemukan dalam pameran MIFF.

Hadirnya eksibitor dari berbagai negara tentu menjadi sebagian pemicu dari perubahan yang terjadi. Resol Group misalnya yang boothnya menggunakan nama Resinas Olot SL menampilkan parabotan menggunakan material fibreglass dan polypropylene (PP) merupakan salah satunya. Koleksi-koleksinya yang cenderung modern kontemporer tentu langsung menarik minat para pengunjung. Tak pelak jika perusahaan ini langsung membukukan lebih dari 50 penjualan hanya pada hari pertama pameran. Sedangkan Taiwan Mirror Glass Enterprise co., Ltd., menyebutkan jika pameran ini berhasil kebutuhan mendasar bagi pertumbuhan brand baru yang serius dalam membangun pasarnya di kawasan Asia Tenggara. Perusahaan yang sudah keempat kalinya mengikuti pameran ini berhasil meraup sekitar 20 hingga 30 persen dari penjualannya hanya melalui MIFF semata.

Membangun brand dan pasar baru juga menjadi motivasi eksibitor asal Indonesia. Olympic misalnya termasuk eksibitor yang berhasil membangun brand-nya secara internasional maupun regional. Tak hanya itu, perusahaan asal Bogor, Jawa Barat ini juga berhasil melakukan penjualan ke sejumlah pasar ekspor yang sebelumnya tidak terlalu dikenal di Indonesia. Dengan konsisten perusahaan ini selalu hadir dalam pameran MIFF dari tahun ke tahun. Bagi banyak eksibitor, konsistensi untuk hadir di MIFF merupakan upaya terbaik untuk tetap berhubungan dengan pasar yang telah ada maupun dengan pasar yang baru sekali. Semuanya dilakukan dalam satu waktu dan satu tempat saja, yaitu MIFF.

Desain-desain baru yang ‘lebih berani’ juga ditampilkan oleh eksibitor lokal. GPacific enterprise asal Malaysia misalnya menampilkan desain kursi stand alone yang terlihat klasik namun dengan warna-warni kontemporer. Kursi-kursi ini bisa dipadukan dengan berbagai meja ternyata juga bisa distacking, sehingga mudah dalam penyimpanannya.

Untuk pertama kalinya, furnitur dari rotan alam mulai bermunculan dalam pameran MIFF. Di even PWTc, penampilan furnitur rotan alam tidak sebanyak yang bisa dijumpai dalam even yang digelar di Mecc. Dalam even di Mecc, nyaris seluruh eksibitornya berasal dari sentra industri furnitur Malaysia di Muar, Johor. Sekalipun desainnya masih cenderung konvesional dengan warna coating yang cenderung gelap, namun penampilannya mengindikasikan come back-nya furnitur ini ke pasar internasional.

Pameran kali ini juga dilengkapi dengan penampilan Forest Research Institute of Malaysia (FRIM). Lembaga riset milik pemerintah federal Malaysia berhasil melakukan terobosan dalam tekologi pengeringan kayu karet. Jenis kayu yang banyak digunkanan dalam industri furnitur Malaysia. Teknologi terbosoan yang disebut sebagai teknologi yang ramah lingkungan ini disebut sebagai High Temperature Drying (HTD). Oleh kepala Advanced processing and Design Programme, Forest Product Division FRIM Dr. Tan Yu-Eng disebutkan bahwa teknologi ini berhasil menurunkan penggunaan borates, namun bisa mempertinggi stablitas kayu gergajian sekaligus memotong waktu proses dari semula dua minggu menjadi hanya satu-dua hari. Keseluruhan operasi ini bisa dilakukan dalam sekali jalan, dengan merubah kayu karet yang masih hijau menjadi kayu gergajian kering.

Seperti yang diakui Dr. Tan, pengembangan ini sudah dipelopori para pendahulunya choo Kheng Ten dan Dr. Sik Huei Shing sejak sepuluh tahun lalu. Tujuan awalnya adalah menjawab munculnya regulasi Uni Eropa terhadap penggunaan bahan kimia seperti borate dalam proses pengeringan kayu yang ada selama ini. Tidak hanya berhasil meyuguhkan produk yang borates-free, sekaligus ramah lingkungan tapi juga produk kayu gergajian yang siap guna proses produksi selanjutnya. Teknologi yang sama juga sedang diuji aplikasikan terhadap kayu tropis dengan lunak hingga yang memiliki tingkat kekerasan menengah. Namun menurut Profesor Dr. Jegatheswaran Ratnasingam dari Fakultas Kehutanan Universitas Putra Malaysia menyebutkan perlunya pengamatan akan berapa banyak peningkatan konsumsi energi yang dipakai dalam proses ini. “Semakin tinggi temperatur berakibat kian banyak konsumsi energi yang diperlukannya,” jelasnya secara singkat.

Saat berdiskusi di booth WoodMag, Dr. Jegatheswaran Ratnasingam menyebutkan bahwa pihaknya juga akan mempresentasikan terobosan baru yang menampilkan green wood dalam pameran MIFF kali ini. Menurutnya, green wood yang akan dipublikasikan ini berasal dari pokok kelapa sawit. Malaysia memang dikenal sebagai salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Ini membuat negeri jiran ini memiliki potensi suplai yang luar biasa, jika pokok atau batangnya berhasil diproses menjadi material bagi kebutuhan industri furnitur atau kayu olahan lainnya.

Ia mengungkapkan bahwa terobosan itu masih bersifat percobaan, sehingga skalanya belum bisa mencapai skala komersial. “Masih dibutuhkan sedikitnya tiga tahun guna penelitian dan pengembangan sangat intensif untuk bisa mencapai skala tersebut,” jelasnya. Namun jelas terobosan ini membawa harapan akan tersedianya material yang berlimpah di masa depan.

“Dihadang Kenaikan Upah Minimum”

Industri furnitur Malaysia kali ini menghadapi persoalan yang cukup pelik. Pasalnya, sejak Januari 2014, pemerintah federal telah memberlakukan kenaikan upah minimal sebesar MYR200. Jumlah yang cukup besar, dan bisa-bisa menjadi beban bagi perkembangan industri ini dalam berapa tahun ke depan. Yang menjadi persoalan adalah kenaikan upah minimal itu tidak terkait dengan kondisi perekonomian dunia yang masih belum membaik hingga saat ini. Seperti yang diakui oleh Profesor Dr. Jegatheswaran Ratnasingam dari University of Putra Malaysia adalah kenaikan upah itu juga tidak terkait dengan kenaikan produktivitas dari tenaga kerjanya. Ia setuju terhadap pernyataan bahwa hingga saat ini tidak penah ada hitungan matematis yang bisa menjelaskan korelasi antara kenaikan upah dan kenaikan produktivitas, serta berapa lama kenaikan produktivitas itu bisa tercapai maksimal pada tingkat upah tertentu.