Felder Group Indonesia

George Lunarso - Country Manager Indonesia Felder Group_lowres

George Lunarso A., Country Manager Indonesia Felder Group: Membidik Pasar Peremajaan Mesin

                Felder is back! Produsen mesin-mesin produksi kayu olahan seperti furnitur asal Eropa secara serius menggarap pasar Indonesia sejak akhir medio 2013. Felder Group yang menaungi merek Felder, Hammer dan Format ini ternyata sangat serius dalam mengembangkan pasarnya dengan mendirikan kantor di Semarang, Jawa Tengah. Ini didorong dengan pertimbangannya akan potensi pasar di Indonesia yang cukup besar. “Jika tidak cukup besar, kami memilih untuk bekerja sama dengan distributor lokal seperti yang terjadi di Korea Selatan dan Jepang,” ujar Country Manager Indonesia George Lunarso A.

Sekalipun yakin akan besar potensi itu, namun diakuinya jika pasar mesin disini justru didominasi produk mesin keluaran negara Asia seperti Tiongkok dan Taiwan. “Paling banyak pangsa mesin asal Eropa hanyalah 30%,” jelas almunus Pendidikan Kayu Atas (PIKA) Semarang. Itu pun harus dibagi antara mesin Eropa tulen dengan mesin serupa bermerek Eropa tapi diproduksi di negara-negara Asia.

Kondisi ini tidak membuat Felder mundur karena sejak awal disadari jika kondisi permesinan di banyak pabrikan di sini sudah memasuki masa uzur. “Kebanyakan pabrikan membeli mesin produksinya pada akhir dekade 1990-an,” katanya. Sehingga saat ini yang “dibutuhkan adalah peremajaan sekaligus bisa mengupgrade kualitas produk akhirnya,” jelasnya. Apalagi dinamika pasar global saat ini memperlihatkan bahwa kualitas akan menjadi kunci penentu kesuksesan Industri kayu olahan di masa depan.

George Lunarso: Sebenarnya Felder mulai buka kantor disini sejak September 2013, namun hingga kini proses berdrinya perusahaan masih dalam proses. Hingga sekarang kami bilang kondisinya masih bergerilya. Kalau tidak dimulai dengan penjualan maka kami tidak pernah tahu bagaimana potensi pasar yang sebenarnya.

Ini karena principal kami masih belum yakin sepenuhnya akan kondisi untuk berinvestasi di Indonesia. Mereka sering mendapatkan masukan negatif, mulai dari korupsi hingga kecilnya  dukungan pemerintah terhadap eksistensi industri permesinan. Ini membuat mereka ragu-ragu untuk berinvestasi.

WoodMag: Lantas faktor apa yang mendorong Felder untuk berbisnis di sini?

George Lunarso: Mereka melihat potensi pasar yang besar. Jika tidak sebesar itu maka Felder cenderung memilih opsi bekerja sama dengan distributor seperti yang terjadi di Jepang atau Korea Selatan. Sistem ini dalam pandangannya tidaklah fokus dibanding jika dihandle langsung. Dengan menangani secara langsung, marketnya dan servisnya lebik baik lagi. Untuk itu Felder akan membuat  semacam perusahaan subsidary.

Saat ini status perusahaan ini masih PMDN atau Penanaman Modal Dalam Negeri, hanya pegawainya yang langsung diangkat mereka. Ke muka jika perkembangannya bagus maka statusnya akan diubah menjadi Penanaman Modal Asing (PMA). Perubahan diyakini bisa membuat dukungannya bisa lebih baik.

WoodMag: Terus terang saja industri pengolahan kayu di sini lebih banyak digambarkan sebagai sunset industry. Lantas dari sudut pandang mana Felder bisa melihat pasar permesinan untuk industri di sini cukup prospektif? Lagi pula pasar permesinan industri di sini sudah didominasi oleh mesin-mesin buatan Tiongkok?

George Lunarso: Ya dan harus diakui kebanyakan pabrikan disini masih sangat price oriented. Sebenarnya mereka juga berorientasi terhadap kualitas, namun terbentur pada daya belinya. Saya dan Felder melihat saat ini ada perubahan dinamika dalam pasar. Saat ini banyak manufaktur atau pelaku industri kayu olahan yang bangkrut akibat mengabaikan kualitas. Paling tidak, daya saing kalah dengan sesama pelaku industri yang akan pentingnya peningkatan kualitas, baik lewat upgrade atau inovasi.

Efisiensi menjadi salah satu perhatian mereka pada saat ini. Ini mirip kepemilikan kendaraan bermotor yang sudah tua yang tentu menelan biaya perawatan tidak kecil, dibanding kepemilikan kendaraan yang baru. Downtime mesin-mesin lama umumnya lebih besar dan tingkat produktivitas relatif lebih rendah dibanding mesin-mesin baru.

Efisiensi yang bisa diperoleh karena menggunakan mesin baru memungkinkan pemangkasan penambahan tenaga kerja. Mesin yang canggih mampu mengurangi sejumlah proses kerja yang sebelumnya ada. Saya tahu dari sejumlah rekan yang bergerak dalam industri manufaktur kayu olahan. Mereka bilang untuk menginves mesin baru yang canggih tidaklah ringan, namun ini memungkinkan mereka bisa mempertahankan jumlah tenaga kerjanya sekaligus melipatkan produktivitasnya. Itu menghindarkannya dari kepusingan akibat pertambahan jumlah pekerjanya. Mesin-mesin itu ‘kan tidak mengenal upah lembur, tidak pernah demo atau meminta Tunjangan Hari Raya.

Mesin-mesin baru menawarkan produktivitas dan efisiensi yang jauh lebih baik. Kami yakin jika mesin-mesin produksi Eropa lebih efisien dalam hal penggunaan power dan tingkat presisi yang lebih tinggi. Kalau tidak ada kesalahan pemrosesan berarti tidak ada pekerjan yang diulangi. Jadi menghemat waktu dan bahan baku. Belum lagi penggunaan daya listriknya lebih hemat dibanding mesin-mesin serupa produksi Asia. Ini terbukti dari pengoperasian harian keduanya. Kelebihan lain dari mesin-mesin produksi Eropa adalah sangat ringan dalam pemrosesan yang dilakukannya. Gak ngoyo lah. Kalau makin ngoyo ‘kan makin boros jadinya.

WoodMag: Tapi pricing itu menjadi orientasi utama dan produk Eropa terkendala dengan kesiagaan teknisi dan suku cadangnya. Lantas bagaimana mengatasinya?

George Lunarso: Itu yang menjadi fokus kami disini. Saat ini kami mensiagakan teknisi lokal guna mengantisipasinya. Ini akan lebih baik dari pada mendatangkan teknisinya langsung dari Eropa. Akan lebih baik lagi jika bisa mengirimkan teknisi lokal untuk mempelajarinya langsung disana guna mengupgrade pengetahuan dan ketrampilannya. Teknisi kami sudah dua kali pergi ke markas Felder di Eropa. Tahun ini, dia akan berangkat kembali untuk menjalani pelatihan di sana. Felder merencanakan ia bisa menjadi leader technician untuk pasar di Asia.

WoodMag: Berapa jumlahnya saat ini?

George Lunarso: Baru satu orang. Dia yang direncanakan akan menjadi leader sekaligus trainer bagi calon-calon teknisi berikutnya.

WoodMag: Bagaimana dengan pengadaan spareparts?

George Lunarso: Kami sudah mulai mempersiapkan untuk kebutuhan itu….

WoodMag: Bagaimana dengan ketersediaan fast moving spareparts-nya?

George Lunarso: Ya, itu kami lakukan. Di luar itu, jika pun kami harus mengadakan secepatnya maka akan dterbangkan langsung dengan layan ekspedisi ekspres dari Eropa.

WoodMag: Ada warehouse untuk itu di kawasan Asia Tenggara misalnya?

George Lunarso: Untuk saat ini belum ada, tapi untuk kawasan Asia maka kami rencanakan akan menjadi yang pertama. Itu adalah komitmen kami. After sales service adalah yang paling awal bagi pelanggan kami. Itu semuanya harus ada terlebih dahulu. Terus terang banyak calon pelanggan atau pelanggan produk Eropa yang kelimpungan begitu tahu harus menunggu kedatangan teknisi atau suku cadangnya dari Eropa. Kami menyadari jika mesin tidak bekerja beberapa hari sudah merupakan kerugian bagi perusahaan. Itu yang kami tidak inginkan terjadi disini. Ketersediaan suku cadang juga menjadi perhatian kami, bahkan ketersediaan itu pun harus selalu ready. Hanya dalam 3-4 hari kerja, suku cadang yang baru harus sudah terpasang di mesin pelanggan.

WoodMag: Kembali ke persoalan kenapa peluang di sini kok bisa dikatakan prospektif padahal dikatakan sebagai sunset industry?

George Lunarso: Kebanyakan mesin yang dimiliki industri ini umurnya sudah belasan tahun, dan sudah harus diremajakan. Kebanyakan pembeliannya terjadi  pada dekade 1990-an. Memang sebagian dari mesin itu diklaim pemiliknya masih dalam kondisi baik, tapi diakui pula sudah mulai tidak relevan untuk kebutuhan saat ini. Mereka sadar jika sekarang saatnya mencari mesin pengganti yang lebih baik lagi. Di Eropa, mesin produksi yang umurnya mencapai 10 tahun sudah pasti digantikan dengan yang terbaru.

WoodMag: Lantas bagaimana Felder menyadarkan calon pelanggannya bahwa mesin-mesin yang ada sudah tidak efisien dan akan membebani mereka?

George Lunarso: Itu pekerjaan rumah buat kami. Merubah mindset tidaklah mudah. Hanya sedikit dan hanya perusahaan berskala besar disini yang memikirkannya. Mereka bahkan sudah berpikir menjual mesin tuanya guna digantikan mesin baru. Tidak semua menyadari jika mesin berumur itu bukannya menguntungkan lagi. Mereka yang tahu sudah berhitung akan depresiasinya secara detil. Rata-rata depresiasinya tercapai dalam lima tahun pertama, dan pasti sudah balik modal. Lima tahun kedua, tinggal menikmati keuntungannya. Saat itu mereka mulai menyisihkan penghasilannya guna mendanai investasi brikutnya. Ini pekerjaan yang sulit untuk merubah mindset mereka.

WoodMag: Padahal disini praktiknya umur mesin rata-rata mencapai dua puluh tahunan?

George Lunarso: Betul.

WoodMag: Malahan sudah menjadi beban bagi mereka?

George Lunarso: Ini menarik Pak. Kalau bapak-bapak melihat bagaimana kondisi permesinan dalam industri kayu olahan kita. Di PIKA, sebagian mesinnya sudah berumur dua puluh tahun atau lebih, hanya saja terawat dengan baik. Di pabrik, perawatannya pasti tidak akan sebaik itu. Siapa pun bisa menjadi operatornya. Sense of belonging di pabrik sangat kurang.

Di PIKA, dari awal sudah diberi tahu soal perawatan harian, mingguan, bahkan persemesternya. saat saya dididik di sana, setiap semester dilakukan pengecekan besar-besaran. Ini menentukan tindakan yang harus diambil, seperti pergantian pelumas atau suku cadang. Di pabrik, apa yang diajarkan di sekolah belum tentu bisa diterapkan sepenuhnya di lapangan. Teman-teman menemukan ganjalan penerapannya, mulai dari keengganan pekerja untuk melakukannya atau manajemen yang berorientasi pada terpenuhinya target produksi. Jadi memang tidak ada jadwal untuk pemeliharaan yang benar-benar taat azas.

WoodMag: Kalau dalam industri Information and Communication Technology (ICT) dikenal istilah downtime. Katakanlah sebuah server punya downtime sebanyak 5% dalam setahun, lantas bagaimana dengan mesin-mesin di industri ini?

George Lunarso: Mesin-mesin produksi Felder sejak awal dirancang untuk low-maintenance bahkan maintenance-free. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, sejak awal kami sarankan untuk bekerja dengan benar dan sesuai prosedurnya. Mesin harus dicek paling tidak sekali setiap bulan. Kami lebih suka bertanya langsung ke end-user karena mereka berpengalaman dalam pengunaan sehari-harinya. Kebanyakan dari mereka mengakui kalau mesin ini seperti yang diklaim pabriknya yaitu low manitenance.

Kalau perawatan rutin mereka pun melakukan ke semua mesin yang dimilikinya seperti membersihkannya usai digunakan. Mereka juga terbiasa melakukan perawatan berkala sebelum liburan. Jadi tidak ada yang luar biasa dalam merawatnya. Celakanya, disini kebanyakan pekerja tidak terbiasa melakukan hal yang sama.

Soal downtime tergantung kebiasaan operatornya. Banyak dari mereka tidak memiliki latar belakang yang cukup guna menghandle mesin semacam ini. Mereka nyaris tidak tahu karakternya. Banyak juga yang sudah hengkang padahal saat mesin datang justru merekalah yang dilatih untuk menghandlenya. Kalau mesin-mesin itu tidak heavy duty pasti sudah jebol jika dihajar dengan kondisi semacam ini.

Saya yakin mesin-mesin Felder akan cukup tangguh menghadapi persoalan semacam ini. Itu sebabnya, saya selalu bilang ke calon pelanggan jika mereka perlu mesin-mesin yang bandel, karena keterbatasan dan kebiasaan tenaga kerjanya. Awalnya dibilang sayang dong padahal justru mesin-mesin bandel buatan Eropa inilah yang mampu mengakomodasi kondisi kerja yang ada.

Kami pernah melatih setiap calon operator mesin agar tidak hanya mengoperasikannya, tapi juga merawatnya. Sayangnya, ingatan mereka pendek dan hanya melakukan semua yang dilatihkan dalam hitungan hari. Ini persoalan mentalitas. Perlu dorongan lebih keras dari manajemen pabriknya agar apa yang sudah dilatihkan bisa diaplikasikan.

Yang repot itu ‘kan kalau mereka adjust mesinnya by feeling. Ini tidak diperbolehkan karena sudah ada standar seperti yang ada dalam Standard Operational Procedures, kecuali SOP-nya memang by feeling. Working pressure pasti ada tapi faktor mentalitas lah yang paling berpengaruh. Dipikirnya toh hasilnya masih bagus. Kalaupun ada kesalahan masih bisa dikoreksi dengan pengamplasan. Jadi selalu ada alasan untuk bersikap permisif, seperti juga pada pergantian suku cadang tepat pada waktunya.

WoodMag: Kembali ke soal kenapa Felder melihat peluang pasar disini prospektif?

George Lunarso: Ketika Felder mulai mengenal PIKA, disadari jika institusi ini memiliki jaringan luas dalam industri ini. Ini terjadi pada tahun 2012. Felder mendapatkan banyak informasi tentang prospek idustri ini. Sekalipun saat itu, bisnis ini sedang terimbas fluktuasi perekonomian global. Namun mereka sangat optimis dengan pasar disini. Saya pernah tanya kenapa tidak memulainya saat itu. Jawabannya adalah mereka belum menemukan sumber daya manusia sesuai keinginannya.

Tiga puluh tahun lalu, Felder pernah bepameran disini. Saat itu, katanya banyak pabrikan disini yang menggunakan mesin-mesin asal Eropa. Saat itu banyak permintaan hanya saja spesifikasinya tidak sesuai dengan keenam mesin yang dipamerkan disini. Satu mesinnya pun disumbangkan ke PIKA, sedang sisanya sudah diminati distributor lokal.

Skala Felder saat itu  belumlah sebesar sekarang, dan belum ada sumber daya yang bisa difokuskan untuk mengembangkan pasar baru seperti di sini. Padahal di saat yang sama ada satu orang asing yang bisa menjual mesin Felder lebih dari seratus unit hanya dalam dua tahun keagenannya. Saya mengenalnya secara tidak sengaja saat menawarinya untuk membeli mesin ini. Dia bilang hingga hari ini, ia tidak pernah dikomplain oleh pelanggannya disini.

WoodMag: Jenis mesin apa yang paling banyak dijualnya?

George Lunarso: Kebanyakan mesin-mesin standar seperti planner dan cutting double saw. Pebisnis mesin-mesin asal Eropa untuk jenis ini nyaris tidak ada disini. Kebanyakan produsen Eropa lebih fokus menjual pada mesin-mesin industri yang fisiknya besar-besar. Padahal kami juga menjual mesin serupa.

Untuk mesin-mesin kecil, seperti yang saya bilang sebagai mesin standar, kebanyaan industri disini bilang tidak memerlukan mesin-mesin Eropa untuk menanganinya. Ketika sudah memiliki dan mengoperasikannya, barulah disadari akan kebutuhannya pada kualitas produksi sebenarnya lebih pada mesin eks-Eropa. Mesin eks-Eropa itu sekalipun sudah berumur tiga puluhan tahun masih halus suara motornya. Hasil kerjanya pun lebih halus dan tahan banting dibanding dengan mesin serupa buatan negara-negara Asia.

Bandingkan antara mesin CNC buatan Eropa dengan buatan negara Asia. Pada enam bulan pertama memang tidak ada bedanya, dan hasil produksinya pun masih setara. Sesudah periode itu barulah terlihat perbedaannya. Suara mesin eks-Eropa masih halus, maka lainnya mulai memekakkan telinga. Untuk menentukan titik nolnya pun nanti yang non-Eropa mulai bermasalah, di samping harus rajin mengkalibrasi berulang kali agar bisa tetap presisi.

WoodMag: Mereka paham dengan persoalan itu?

George Lunarso: Ya tapi sekali lagi persoalannya adalah budjet. Ini yang membuat banyak pabrikan mengcombine-nya. Harus diakui dominasi mesin-mesin Asia sangat kuat. Mereka tidak hanya merajai di segmen mesin standar, tapi juga eksis di segmen mesin industri. Mesin eks-Eropa Total pangsa mesin eks-Eropa mungkin tidak mencapai 30%. Itu harus dibagi antara mesin Eropa tulen dengan mesin eks-Eropa yang diproduksi di negara-negara Asia. Felder hingga saat ini masih mempertahankan sistem produksi inhouse total di Eropa sana.

Sebagian mesin yang bermerek Eropa tapi diproduksi di negara-negara Asia didorong asumsi tak akan merubah kualitasnya kalau sebagian parts-nya diproduksi disini. Padahal justru perbedaan itu mulai bisa dirasakan end-usernya mulai dari suara mesin yang lebih bising, lalu kualitas hasilnya yang relatif lebih kasar, dan ada toleransi lebih terhadap ketidak presisian. Disini selalu dibilang selisih sedikit juga tidak apa-apa. Disana, selisih sedikit justru apa-apa. Saya tetap mencoba berpikir positif bahwa produsen mesin Eropa akan tetap mempertahankan kebijakan kualitasnya sekalipun suplai dan produksi dilakukan di negara-negara Asia.

WoodMag: Apakah Felder masih mempertahankan kebijakan made in Europe?

George Lunarso: Ya bahkan hingga saat ini. Bagian terbesar komponen mesin Felder memang masih dikerjakan di Austria. Untuk motor mesinnya, kami masih mempertahankan suplai dari produsen asal Jerman yang sangat unggul dalam kualitasnya secara global. Untuk kelistrikan tetap kami pertahankan pasokan dari produsen asal Perancis. Untuk dinamo, jelas pasokan terbaik didunia ini hanya datang dari produsen asal Italia. Jadi kualitas terbaik masih menjadi obsesi kami.

WoodMag: Bagaimana dengan pricing policy dan perlindungannya terhadap fluktuasi nilai tukar?

George Lunarso: Hingga saat ini kami masih fokus pada penjualan tunai. Persoalan pre-finance belum menjadi perhatian kami saat ini. Ke depan memang sudah terpikirkan persoalan ini. Kami akan menjajaki kerja sama dengan sejumlah institusi keuangan untuk mewujudkan fasilitas pre-finacing, terutama untuk mesin-mesin berskala besar.