Dra. Tri Ernawati, M.Si.: “Politeknik berbasiskan Multi Entry dan Multi Exit”

dra-tri-ernawati-m-si_low

Baru setahun berdiri, Politeknik Furnitur dan Pengolahan Kayu yang berlokasi di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah; kian diminati generasi muda Indonesia. Tahun pertama, perguruan tinggi di bawah Badan Pengembangan Sumber Daya Industri, Kementerian Perindustrian menampung sembilan puluh sembilan mahasiswa dan mahasiswi. “Untuk tahun ajaran ini yang mendaftar mencapai 1088 orang, namun hanya diterima seratus delapan puluh orang,” kata Direktur Politeknik Dra. Tri Ernawati, M.Si. Calon mahasiswanya tidak hanya datang dari seputaran Kendal dan Jawa Tengah. Bahkan ada yang datang dari Aceh, Lampung hingga Balikpapan.

Perguruan tinggi ini tidak hanya membebaskan SPP bagi mahasiswanya hingga tahun terakhir, tapi juga mengenalkan konsep Multi Entry dan Multi Exit dalam pendidikan vokasional. Terdapat keterlibatan industri furnitur dalam proses seleksi penerimaan calon mahasiswa.

Poltek yang menempati lahan seluas 2 hektar ini kini sedang berbenah menyiapkan tambahan sarana dan prasarana penunjang pendidikannya, mulai dari gedung workshop dan permesinannya. “Akan datang dua mesin CnC tiga axis untuk kayu panel dan solid,” kata Pembantu Direktur III Supardi. “Workshop akan dikembangkan seperti production line dalam industri furnitur sejak pembahanan hingga finishing, namun mampu mengakomodasi kerumunan mahasiswanya yang sedang memperlajari mesin-mesin yang ada,” lanjutnya.

Ikuti pembicaraan kedua petinggi poltek  dengan Redaksi WoodMag, kampus yang berlokasi Kawasan Industri Kendal yang berlimpah dengan sinar matahari.

pustek-01

WoodMag: Bisa dijelaskan jurusan yang ada dalam politeknik ini? Lantas bagaimana menentukan jurusan-jurusan yang akan dibuka disini?

Tri Ernawati: Sebelum menentukan berapa kelas untuk sebuah jurusan, kami menjaring informasi dari industri furnitur yang ada di Semarang dan sekitarnya. Dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang berapa kebutuhannya akan tenaga teknik produksi, desain dan manajemennya. Berdasarkan informasi itu baru bisa ditentukan berapa kelas yang harus dibuka untuk tiap jurusan.

Kebutuhan industri untuk tenaga manajemen sangat terbatas. Paling hanya satu-dua orang per-perusahaan. Juga untuk kebutuhan tenaga desain, satu industri butuh paling banyak dua-tiga orang, namun kebutuhan akan tenaga produksi lebih banyak di setiap perusahaan.

Tujuan dari pendirian politeknik ini untuk tenaga desain karena meihat perkembangan industri yang ada, kebanyakan memproduksi by order. Tailor made saja. Kebanyakan industri hanya diberikan order dan desainnya sudah ditentukan oleh pembelinya sehingga sulit untuk mendapatkan nilai tambah lebih. Itu sebabnya kami berupaya mempersiapkan tenaga desain dalam rangka penambahan nilai tambah itu.

Kesulitannya adalah nyaris tidak ada dosen desain furnitur. Yang ada desain  interior atau arsitektur. Kami berusaha mencarinya dan bekerja sama dengan industri furnitur. Beberapa tenaga pengajar yang sifatnya teknis diperoleh dari industri.

WoodMag: Bagaimana persoalan mislink dan mismatch yang menghantui institusi pendidikan vokasional?

Tri Ernawati: Kami punya konsep link and match sendiri. Sejak awal kami sudah melibatkan industri dalam penyaringan mahasiswanya. Calon mahasiwa yang lolos Tes Potensi Akademik (TPA) akan mengikuti wawancara rekrutmen yang dilakukan kalangan industri. Industri memilih calon mahasiswa yang akan diwawancarainya.  Sekalipun skor TPA tinggi kalau industrinya tidak cocok dan tertairk dengan calonnya maka tidak akan diterima. Konsekuensinya, industri yang memilih calon itu harus bersedia menerima mahasiswa itu saat magang. Setiap mahasiswa diwajibkan mengikuti magang di industri selama empat bulan di tahun kuliah pertama, kedua dan ketiga. Diharapkan setelah lulus, nantinya mereka akan diterima bekerja di industri yang bersangkutan.

Magang di tahun pertama masa kuliahnya membuat mahasiswa belajar berorientasi dan belajar bekerja selayaknya seorang karyawan. ini pengenalan awal terhadap atmosfir dan suasana kerja di sebuah industri. Kami sedang membangun dan sedang dalam proses ke kementerian pendidikan tinggi tentang konsep Multi Entry, Multi Exit. Sistem ini yang akan sedang dibangun disini. Nyaris semua pendidikan vokasional di sini tidak memiliki sistem ini.

pustek-03

Uji kompetensi di tahun pertama memenuhi kualifikasi level tiga di industri. Leveling di industri ada sembilan dan level tiga itu setara operator. Kalau untuk tahun kedua akan memenuhi kualifikasi level empat. Setara koordinator atau kepala grup produksi. Untuk tahun ketiga levelnya supervisor. Itu yang menjadi orientasi kami. Jadi setiap tahunnya akan diadakan uji kompetensi. Kalau tidak lulus dari uji kompetensi maka pesertanya harus mengulangi atau remedial. Jadi opsinya hanya dua, lulus atau tidak lulus. Kalau tidak lulus maka akan dicari dimana kegagalannya.

Artinya setiap lulus uji kompetensi maka peserta didik sudah mengantongi sertifikat. Berbekal itu, ia bisa memutuskan untuk bekerja dan keluar dari pendidikan. Bila nanti dikehendaki melanjutkan pendidikan maka ia bisa meneruskannya. Untuk tahun kedua, uji kompetensinya akan menghasilkan sertifikat untuk level empat. Uji kompetensi di tahun ketiga akan berkualifikasi level lima, Itu yang menjadi orientasi disini.

WoodMag: Ada kesepahaman dengan industri pengguna soal sertifikasi itu?

Tri Ernawati: Ya. Mindset industri sudah agak terbuka dan eskpektasi mereka ke poltek juga besar sekali. Pekerjaan kami disini adalah berkeliling industri untuk menginformasikan dan mensosialisasikan seperti apa lulusannya nanti dan level keahliannya. Kami sudah berkeliling ke Semarang, Jepara, Kudus, Solo dan Jogjakarta.

Kami sedang mempertimbangkan penambahan satu kelas lagi untuk jurusan manajemen, dikarenakan tingginya animo saat ini. Untuk tahun pengajaran saat ini, pendaftar mencapai 1088 orang dan hampir separuhnya memilih jurusan manajemen. Itu tren dan saya duga kebanyakan calon mahasiswa berpikiran jika mengambil teknik produksi itu akan bekerja di pabrik dengan lingkungan yang kotor dan berdebu.

WoodMag: Dirty, dusty and dangerous?

Tri Ernawati: Ya, Kalau dimanajemen persepsinya kerja kantoran, bersih dan berdasi. Di Eropa juga begitu. Kalau manajemen selalu dipersepsikan kerja kantoran. Mata kuliahnya kan soal ekspor impor, administrasi umum,  e-marketing dan e-commerce, dan standarisasi. Persoalannya kebutuhannya sangat terbatas. Kami sudah merencanakan untuk bekerja sama dengan industri terkait hingga ke Jawa Timur , Jawa Barat hingga keluar Jawa. Ini agar lulusannya terserap. Kalau mengandalkan industri furnitur di sekitar poltek tidak akan cukup. Jalan keluar itulah yang akan diambil dalam waktu dekat. Kami harus berangkat ke Jawa Timur lebih dulu, karena disana banyak industri pengolahan kayu dan furnitur berskala besar dibanding yang ada di Jawa Tengah. Iindustrinya bukan hanya furnitur tapi juga woodworking. Kemungkinan kebutuhan tenaga manajemen profesionalnya lebih banyak lagi. Tidak hanya industri furnitur dan perkayuan tapi juga industri lainnya, karena manajemen bersifat lebih umum.

WoodMag: Ada wakil dari kalangan industri?

Tri Ernawati: Kami di backup Komite Industri. keberadaannya di-SK-kanmenteri dan berisikan 19 orang, dari kalangan industri, perguruan tinggi dari Universitas Diponegoro, Uiversitas Tidar dan Lembaga Sertifikasi Profesi serta wakil Asosiasi. Komite inilah yang membuat kami berjalan bagus. Keterikatan dan dedikasinya sangat tinggi. Mereka mencari, menyaring dan merekomendasikan industri mana saja yang bisa bekerja sama dengan poltek. Juga dalam menyaring calon tenaga pengajarnya yang sesuai kebutuhan, seperti lima orang penanggung jawab di workshop justru direkomendasikan mereka.

Tenaga pengajar tetap yang berstatus Pegawai Negeri Sipil sekitar 11 orang, sedang yang tidak tetap berjumlah 30 orang. Kalau pengajar Mata Kuliah Dasar Universitas berasal perguruan tinggi di sekitar Semarang. Yang teknis diambil dari kalangan industri, sekalipun yang belum berjenjang S1 namun pengalaman panjangnya membuat mereka bisa mengajar disini. Kami gunakan mekanisme RPL (Recognition Prior Learning) dari kementerian Pendidikan Tinggi. Program pengakuan terhadap keahlian tenaga pengajar yang bersangkutan namun harus melalui sejumlah tahapan sebelum bisa mengajar. Juga TfT (Training for Trainer) untuk mendapatkan sertifikat agar yang bersangkutan bisa mengajar. Ini bekerja sama dengan Universitas Diponegoro dan Kementerian Dikti dalam sertifikasi ToT dan RPL.

Anggota komite banyak yang mengajar disini sehingga dibuat mekanisme pengajaran yang mengakomodasi semuanya dalam sekali datang.  Sistemnya blok, satu mata kuliah dimungkinkan selesai dalam seminggu. Kami berharap bisa merekrut dosen ahli desain. Ini yang harus diperkuat dalam waktu dekat.

WoodMag: Soal multi entry, multi exit tadi menarik….

Tri Ernawati: Sistem ini memungkinkan mahasiswa tahun pertama keluar dan bekerja setelah mengikuti magang dan uji kompetensi. Mereka tidak lagi harus menunggu selesai di tahun ketiga. Yang bersangkutan juga bisa kembali ke bangku kuliah. Program ini sedang diproses ke Dikti dan seperti inilah nantinya pendidikan vokasional disini. Kami mengadopsinya dari sistem pendidikan vokasional Australia.

Kami mendapat bantuan dari pemerintah Swiss melalui kantor Skil for Competitiveness (SforC). Bantuannya berbentuk software dalam pembangunan kurikulum, setup workshop, penyusunan modul dan RPS. Kerjasama ini sangat membantu. Penyusunan Renstra mendapatkan bantuan langsung, hanya saja kami sebagai pengelola politeknik sudah memiliki konsep sendiri. Moga-moga kehadiran mereka selama 10 tahun ke depan berkontribusi pada pengembangan politeknik ini.

WoodMag: Bagaimana dengan Teaching Factory?

pustek-02

Tri Ernawati: Sekolah vokasi memang harus memilikinya. Itu arahnya namun harus ada batasnya. Industri bisa menerima batasannya dan itu tergantung kami sebagai pengelolanya. Kami sepakat menerima order dari industri namun hanya bagian kecil. Kalau itu produk kursi maka mungkin hanya mengerjakan komponen kakinya. Dikerjakannya diworkshop. Keuntungannya adalah mahasiswa bisa berpraktik tapi harus memenuhi persyaratan standar kualitas yang diminta.

Memang ada perhitungannya soal jasa produksinya. Pendanaan poltek seluruhnya langsung dari perindustrian termasuk SPP mahasiswa hingga tahun ketiga. Kerjasama dengan industri diperbolehkan penyerapan dananya hanya masih dalam pengaturan mekanisme dan payung hukumnya. Padahal pembahasan dengan lembaga asing dari Jerman dan Swiss sudah sejak 10 tahun lalu, namun sampai kini belum ada payung hukum apalagi mekanisme jelasnya.  Kalau di Jerman kan jamak kerjasama antara pemerintah, industri dan sekolah. (eM)