AKT Indonesia

Image Profile PT AKT

CC Tsai, Director PT AKT Indonesia: “Value and Quality has to be Equal”

Kualitas memang menjadi salah satu faktor yang mendrive sebuah perusahaan untuk terus-menerus meningkatkan performanya. Namun hanya terobsesi pada kualitas bisa menjadikan produk sebuah pabrikan justru tak terjangkau oleh pasar potensialnya. Sekalipun harus diakui kualitas yang baik akan membuat pelanggannya menjadi setia. Lihat saja bagaimana merek otomotif papan atas seperti Mercedez-Ben dan Ferrari mampu membuat pelanggannya sangat loyal dengan produk-produknya.

Kualitas yang bagus bahkan teramat bagus, membuat sebuah merek atau brand mampu menciptakan ceruk pasarnya sendiri. Sebuah pasar yang relatif kecil dengan tingkat loyalitas tinggi dan tidak rentan terhadap perubahan harga. Sebuah pasar yang menjamin perolehan margin keuntungan secara lebih pasti.

Loyalitas inilah tampaknya dibidik oleh Director PT AKT Indonesia CC Tsai. Pria asal Taiwan yang sudah lebih dari lima belas tahun bergelut memproduksi instrumen musik ukelele menyadari jika kualitas yang menjadi acuannya harus lah memberikan nilai setara. “It has to equal,” katanya saat diwawancarai di instalasi manufakturnya di Pasuruan, Jawa Timur. “Di pabrik ini, kami tidak memproduksi sesuatu yang berkualitas tinggi, but building the best value,” jelasnya.

 “Definitely the best for the value,” tegas Tsai. Itu sebabnya instrumen musik Ukelele yang diproduksinya dengan brand Mahalo telah dipasarkan ke tujuh puluh delapan negara. padahal lima belas tahun lalu, ketika mitranya yang berasal dari Jepang memulai order pertamanya pasarnya masih terbatas. “Jumlahnya sangat terbatas dan hanya untuk toko instrumen musik yang dikelolanya,” tambahnya.

Mahalo yang dalam bahasa Hawai’i berarti terima kasih, kemudian disetujui oleh mitranya untuk digunakan sebagai brand satu-satunya bagi produksi selanjutnya. “Without hestitase, ia tak berkeberatan bila kami membuat brand ini terkenal di seluruh dunia,” jelasnya. Kepercayaan inilah yang membuatnya pihaknya bersikukuh untuk tetap mempertahankan tradisi kualitas produk yang setara dengan nilainya.

Baginya membangun sebuah brand bukanlah hasil kerja semalam. “Butuh waktu bertahun-tahun agar pelanggan menyadarinya,” jelasnya. Ini merupakan investasi jangka panjang untuk bisa membuat sebuah brand kuat dan bagus. Ini membutuhkan komitmen dan kerja keras secara konsisten. Kualitas merupakan hal yang niscaya bagi pihaknya. Ini membuat semua pihak yang berhubungan dengannya, mulai dealer, distributor hingga ke konsumen akhirnya bisa merasakan perbedaannya.

Menurutnya, dalam banyak kasus “Sejumlah orang pasti akan berupaya mencari produk subtitusi serupa yang lebih murah sekalipun akhirnya mereka kembali ke Mahalo”. Pengalaman inilah yang membuatnya sangat mempercayai kualitas merupakan yang pertama, tapi ia tetap menekankan bila kualitas dan nilai haruslah setara. Ia dengan gamblang mengatakan bila pihaknya bukanlah pembuat pembuat ukelele terbaik, “But definitely the best quality for the price you pay,” sambungnya.

Itu sebabnya ia menyebutkan tanpa keraguan bila pihaknya secara jelas bisa membedakan mana kualitas yang baik dan mana yang buruk. Tanpa ragu pihaknya bisa memutuskan meningkatkan atau bahkan menggantikannya agar tetap memperoleh kualitas terbaik. Untuk mendapatkan yang terbaik sekaligus setara bukanlah pekerjaan mudah, dan bisa dihasilkan dalam satu atau dua hari. jika terjadi sebuah kesalahan, pihaknya harus segera mengganti dan memperbaikinya. “Harus ada pergantian dan itu dilakukan dari hari ke hari agar bisa perfect,” katanya. Ia menampik pihaknya sudah mencapai kesempurnaan karena pengalaman panjangnya, “It’s endless work to do quality improvement,” lanjutnya.

Berfokus pada perbaikan kualitas inilah yang membuat pihaknya tetap setia pada brand Mahalo. Hanya satu brand dan tak pernah telintas dalam pikirannya untuk melahirkan brand keduanya. “Kami cukup puas dan senang dengan yang telah dicapai dan dilakukan selama lima belas tahun terakhir,” jawabnya secara diplomatis. Keputusan yang sangat cermat untuk situasi dan kondisi yang ada, sehingga membuatnya perusahaan ini tidak tergoda dalam permainan kualitas yang bisa memerosotkannya sewaktu-waktu.

“Nantinya tak hanya Ukelele”

Berdiri diatas lahan seluas 18.000 meter persegi di Pasuruan, hingga awal Februari lalu telah berdiri dua bangunan berupa fasilitas perkantoran yang menjadi satu dengan gudang, serta fasilitas produksi ukelele. Namun menurut Tsai, yang justru berdiri terlebih dulu dibandingkan dengan kedua bangunan itu, justru bangunan kantin yang letaknya di sudut belakang lahan.

Rencananya, lahan seluas ini masih akan dibangun dua fasilitas lainnya. Awalnya, seperti yang diutarakan Tsai, akan didirikan fasilitas produksi gitar elektrik dan fasilitas produksi untuk bass serta gitar akustik. “Itu merupakan proyek berikutnya dan direncanakan akan mulai dilakukan pada awal tahun 2015 mendatang,” jelasnya. Namun untuk produksi gitar elektrik masih akan mengalami penundaan sambil menunggu membaiknya perkembangan perekonomian.

Dari Pasuruan ke Pentas Musik Dunia

April 2014 akan menjadi tonggak bersejarah yang menandai dimulainya ekspor ukelele Mahalo ke seluruh dunia. Sekalipun diakui Tsai “Saya tidak tahu ekspor perdana  ini akan ditujukan ke negara mana”. Saat ini, sekitar 78 negara telah menjadi tujuan ekspor ukelele Mahalo. Pasar terbesar untuk saat ini adalah Inggris (United Kingdom). Sebelumnya, pasar Amerika Serikat merupakan yang terbesar. Situasi perekonomian yang kurang baik di negeri Paman Sam telah melemahkan daya serapnya akhir-akhir ini.

Agar bisa melakukan eskpor perdananya, perusahaan ini telah mempekerjakan sekitar 300 tenaga kerja. Perekrutannya dilakukan secara bertahap, dan memprioritaskan bagi mereka yang telah berpengalaman kerja di industri serupa. Hasilnya rekrutmen ini ternyata cukup bisa dibanggakan karena sejak awal produksinya, kontrol kualitas yang diterapkan sangat ketat. Namun tidak ada hambatan yang berarti dalam berproduksi.

Untuk pembuatan headboard diterapkan sistem tiga lapis. Sistem ini memungkinkan bagian tesebut mampu menahan tarikan tak searah yang terjadi, sekaligus membuat ikatannya lebih stabil. Selain memproduksi ukelele dengan coating atau finishing konvesional, AKT Indonesia juga sedang mempersiapkan seri pelangi alias rainbow. Seri ini terdiri dari sepuluh warna sesuai gradasi warna pelangi yang bila dijejerkan dalam display akan terlihat sangat cool alias keren banget.

“Pasuruan: Plihan Terlogis”

Pasuruan tampaknya menjadi opsi paling logis diantara pilihan akan lokasi pabrik Mahalo didirikan di Indonesia. Kota di tepi pantai utara Jawa Timur yang berjarak dua jam berkendaraan menjadi salah satu dari pilihan selain Jakarta dan Surabaya. Pada awalnya, Tsai bahkan sempat melirik Tangerang yang letaknya berdekatan dengan Jakarta. Namun akhirnya pilihannya jatuh ke Pasuruan.

Kota kabupaten ini dipandangnya lebih kondusif bagi pertumbuhan industrinya, mulai dari rata-rata cuaca pertahunnya. Lantas dinilai “Lebih nyaman dan aman, dengan tingkat Upah Minimum Regional yang relatif rendah, serta bebas dari macet seperti di Jakarta atau bahkan Surabaya sendiri,” jelasnya. Kesemua faktor itu tampaknya bisa memikat AKT Indonesia untuk melabuhkan pilihan pendirian pabriknya di sini.

“Semua sudah paham”

Menurut Tsai, kehadiran perusahaannya di sini memang akan fokuskan pada penggunaan kayu tropis lokal sebagai bahan baku utamanya. Sekalipun dikatakannya tidak semua jenis kayu lokal bisa digunakan untuk kebutuhan industri ini. Kayu yang digunakan meliputi sengon, nyatoh, mahoni dan sonokeling.

Kayu sonokeling yang dikenal sebagai Indonesian rosewood misalnya sangat sesuai digunakan sebagai material untuk pembuatan fingerboard dan bridge. Untuk pembuatan badannya akan digunakan kayu nyatoh atau sengon. “Semua pengetahuan material ini sudah bukan lagi rahasia karena telah dipahami oleh semua produsen instrumen musik serupa di dunia”, jelasnya. Ia mengatakan tidaklah mungkin menggunakan kayu spruce untuk pembuatan fingerboard atau bridge. Ini dikarenakan kayu jenis ini hanya cocok untuk body bagian belakang. Kayu jenis ini memiliki respon yang bagus terhadap vibrasi suara.

“Rahasia dibalik nama AKT Indonesia”

            PT AKT Indonesia tampaknya menuai keiinginan tahu dari sejumlah orang mengenai kepanjangan dari singkatan tersebut. Namun selidik punya selidik, ternyata seperti yang disampaikan Asisstant Director Febri H, AKT tidak memiliki kepanjangan apapun. AKT ya AKT, “Nama tersebut dibuat oleh Mister Tsai agar mudah diucapkan oleh orang Indonesia,” jelasnya.